
Dunia parenting itu sangat complicated. Selain ada ilmu-ilmu parenting yang baik untuk diterapkan, printilan-printilan parenting pun ikut ramai mengikutinya. Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, dulu generasi ortu kita atau generasi kakek nenek kita bisa membesarkan anak-anaknya tanpa membeli banyak barang ini dan itu.
Saya meyakini bahwa banyaknya produk-produk ibu dan anak ini sebenarnya adalah konspirasi marketing. Dengan iming-iming supaya anaknya tenang, pintar, sehat, atau supaya kita lebih mudah, ringkas, dan sebagainya. Nah, kita, generasi yang merasa lebih mampu, bisa bayar tanpa mikir, dan pengin melakukan apapun untuk anak.
Saya pun kerap kali seperti itu. Impulsif dalam memutuskan sesuatu, membeli suatu produk, atau mengejar prestige tertentu. Tapi, saya berusaha membuat jangkar di kepala ini yang siap menahan supaya enggak kebablasan terlalu jauh, yang ujung-ujungnya malah disesali sendiri.
Memulai hidup minimalist memang bersumber pada pikiran. Selain pola pikir tadi, ini beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk memulai minimalist parenting:
Enggak malu pakein anak barang-barang preloved
Selain diberkahi mbak serta teman yang sering melungsuri baju-baju bagusnya ke saya. Saya juga diberkahi rasa percaya diri sekalipun pakai baju lungsuran. Dan perasaan itulah yang kebawa ke anak-anak. Ketika dia dikasih baju lungsuran dari kakak sepupunya, dia percaya diri memakainya.
Bukan cuma barang preloved pemberian orang terdekat, bahkan saya pun membeli beberapa barang preloved di Carousel. Misalnya pompa ASI, korset maternity, baju anak, dan sebagainya.
Ketika saya lahiran dan teman mau ngado printilan bayi yang sudah tidak terpakai, saya menerimanya dengan senang hati. Untuk kado pun saya enggak pernah mensyaratkan harus baru.
Prinsipnya, semua barang yang numpang lewat di kehidupan kita mempunyai daya guna yang maksimal. Ketika pemiliknya tidak mampu memaksimalkan fungsinya, bisa jadi ada adopter lain yang bisa mengambil alih tugasnya.
Bikin list barang atau kado yang dibutuhkan
Surprise kado yang berkesan adalah ketika kita memberikan kado yang benar-benar diinginkan atau dibutuhkan oleh si penerimanya. Saat kehamilan kemarin, saya membuat list barang yang inginkan. Lengkap sampai semerek-mereknya dan link official storenya. Haha, antara niat dan gabut karena list itu dibikin pas saya harus bedrest selama seminggu.
Dari list itu bisa jadi inspirasi ke temen untuk memberikan kado. Sekalipun yang diberikan nanti bukan barang baru, yang penting barangnya sesuai yang saya inginkan, itu sangat nggak papa. Di dia, benefitnya jadi enggak nyampah. Di saya, juga benefitnya dapat gift sesuai keinginan.
List yang saya bikin itu ternyata juga bisa jadi patokan ketika saya menginginkan suatu barang. Jadi, ketika suatu saat ada rejeki untuk membelinya, mata saya enggak kemana-mana. Tapi, fokus ke produk A yang sudah jadi wishlist. Bikin waktu pencarian jadi lebih ringkas.
DIY mainan anak pake barang bekas
Saya dulu pernah setelaten ini di anak pertama. Perlu digarisbawahi, anak pertama. Haha.. Padahal dulu kerja kantoran dan waktu bersama anak terbatas. Tapi, mungkin justru itulah yang mungkin bikin saya rajin bebikinan.
Setelah anak kedua, mulai agak melorot lebih karena kesibukan. Kerja di rumah sekaligus mengurus rumah dan anak. Saya masih kewalahan dan struggle dengan boundaries di hari-hari saya. Tapi, dalam hati saya pengin kayak dulu lagi. Karena efeknya di kakak, dia jadi lebih kreatif bikin-bikin sesuatu. Bisa banget dikasih kardus aja, dia akan berimajinasi jadi kasir supermarket.
Parenting sekarang godaannya lebih besar, banyak produk-produk edutoys yang bervariasi, mulai harga miring sampai pricey. Padahal, untuk mengenalkan anak konsep berat dan ringan enggak harus beli cylinder block, bisa pakai batu, kayu, atau peralatan dapur yang ada. Mengajarkan anak keseimbangan juga enggak harus beli balok-balok titian. Lihat sekitar, keluar rumah, Tuhan sudah sediakan.
No more FOMO, yes for JOMO
Penyakit FOMO (fear of missing out) ternyata racun sekali ya. On context parenting, sehari aja enggak catch up sama kabar dunia luar rasanya hampa. Enggak ikut mom & baby fair yang lagi rame aja, rasanya jadi enggak gaul. Enggak beliin anak mainan yang lagi viral aja, rasanya seperti jadi orang tua terjahat sedunia. Enggak kasih anak edutoys yang banyak dijual aja, seakan-akan bikin kita jadi orang tua yang enggak peduli perkembangan anak.
Nope! Instead of feeling FOMO, why not start to embrace the present and feel JOMO (joy of missing out).
Enggak masalah untuk enggak follow akun-akun parenting yang rame diikutin orang-orang. Enggak masalah juga untuk enggak belanja segala macam mainan anak, pakaian anak, buku-buku anak, dan sebagainya. It’s ok, kalau memang diperlukan, sering dipakai, dan bermanfaat jangka panjang. Tapi kalau cuma FOMO sesaat, lalu numpuk di lemari?
Mengajarkan ke anak tentang mindset memperbaiki, alih-alih membeli yang baru
Jaman dulu, harga baju termasuk mahal, jadi mama sering jahitin baju buat saya. Tapi, beda dengan sekarang. Enggak cuma baju yang harganya terjangkau, mainan, alat elektronik, peralatan rumah tangga, dan segala macam printilan mudah kita temukan dalam sekali klik.
Kalau bonekanya rusak, ya sudah, buang saja ganti yang baru. HP atau laptop lemot, ya sudah ganti saja yang seri terbaru. Kita jadi lebih enteng menggampangkan ketika ada sesuatu yang rusak. Toh, nanti gampang cari gantinya. Toh, nanti gampang cari duitnya.
Instead of membeli yang baru, kenapa enggak mengubah mindset dengan memperbaikinya dahulu? Ini bisa mengajarkan anak tentang kesabaran, bahwa enggak ada sesuatu yang instan, rusak langsung ganti. Dan juga ngajarin tentang manajemen uang, enggak semudah itu mencari uang sehingga kita menggampangkan untuk ganti yang baru.
Selain tips di atas, apa kalian punya tambahan tips lainnya? Saya pun masih belajar untuk menerapkan minimalist parenting. Kadang hari-hari saya ada benernya, tapi juga enggak sedikit kebablasannya. Tapi, jangkar itu yang selalu diusahakan. Kita sama-sama belajar untuk lebih minimalist dan mindful membersamai keluarga, yuk!
